Headlines News :

INFO HAJI

More on this category »

JUAL BELI ONLINE TERPERCAYA :

Universitas Batam

More on this category »

Catatan Kesederhanaan

More on this category »

Catatan Inspirasi Fahmi Amhar

More on this category »

Info Internasional

More on this category »
Tampilkan postingan dengan label Edisi Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Renungan Idul Fitri : Antara Ketulusan, Tradisi dan Basa-Basi

 
Duhai hati…
Kurendam engkau di air kelapangan jiwa
Kukerik kerak yang mulai mengeras
Kucuci hingga suci tak bernoda
Kujemur di bawah cahaya Ilahi

Duhai hati…
Itulah hasratku
Itulah kehendakku
Itulah ‘azam­-ku
Itulah visi dan misiku

Duhai hati…
Tapi diri ini lebih senang menunda
Semua jadi teori dan omong kosong belaka
Cuma desain tanpa implementasi nyata
Hebat kata-kata namun hampa adanya

Setiap kita tentu tulus saat menulis maupun mengucapkan permohonan maaf kala Idul Fitri tiba.

Setiap kita tentu tulus saat melafalkan kalimat pemberian maaf kepada orang yang mengharap maaf kita kala Idul Fitri datang.

Pertanyaannya adalah :
  • Ketika meminta maaf kepada seseorang, pernahkah kita—di dalam hati—menyebut apa saja kesalahan kita kepadanya? Ataukah kita hanya mengikuti sebagaimana lazimnya, yaitu dengan mengucap “Mohon dimaafkan atas segala kesalahan, baik disengaja maupun tidak”? Padahal kita sendiri tidak tahu (atau bahkan tidak mau tahu) kesalahan apa yang telah kita perbuat?
  • Misal kita khilaf telah meng-copas tulisan orang lain tapi tidak mencantumkan nama atau alamat web/blog orang tersebut.

    Maukah dengan jujur kita segera mencantumkan namanya, lalu secepatnya memohon keikhlasan darinya?

    Ataukah dengan egoisme tinggi kita enggan melakukannya karena para pengunjung blog telah mengira bahwa artikel tersebut tulisan kita, dan bila kita revisi, ada kekuatiran harga diri akan jatuh?
  • Apakah pemberian maaf kita hanya berlaku untuk orang yang secara langsung memohon maaf kepada kita?

    Bagaimana bila ada orang yang bersalah kepada kita tapi tidak minta maaf? Akankah kita juga memaafkannya? Apakah di hari nan fitri kita berniat memaafkan semua orang, baik yang menghaturkan kata maaf maupun tidak?

    Ataukah kita hendak berkata, “Kalau dia ngga minta maaf terlebih dahulu, aku ngga sudi memaafkannya. Jangankan memberi maaf, melihat mukanya saja aku tak mau!”
  • Apabila kita murid/mahasiswa, setelah bermaaf-maafan dengan guru/dosen, apa di bulan-bulan berikutnya kita masih mengulangi kebiasaan kita, yaitu membicarakan (ngrasani) guru/dosen kala berkumpul (kongkow/cangkruk) bareng teman-teman?
  • Kalau kita guru/dosen/ustadz, sesudah saling meminta dan memberi maaf kepada siswa/mahasiswa/santri, masihkah kita bersikap merasa diri lebih tua, lebih pengalaman dan lebih-lebih lainnya sehingga tidak boleh ada satu siswa/mahasiswa/santri pun mendebat atau membantah kita? Masihkah kita berprinsip “kalah–menang nyรฉrรฉk”(apa pun yang terjadi—walaupun kita salah—keputusan dan kekuasaan berada di tangan kita sehingga kita senantiasa menang)?
  • Jika kita atasan, setelah lebaran, apakah kita benar-benar memperbaiki kualitas kepemimpinan sehingga kesalahan yang telah lalu tak terulang lagi? Begitu pula sebagai karyawan, apakah kita sungguh-sungguh meningkatkan kinerja sebagai bukti tulus permintaan maaf kita kepada atasan?
  • Bila kita pejabat, apakah permintaan dan pemberian maaf kepada rakyat akan membuahkan kejujuran yang senantiasa mengalir bersama aliran darah dan menyatu dalam diri sehingga tak kan pernah ada kamus membohongi publik, korupsi dan sejenisnya di benak kita?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “tulus” bermakna sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas. Adapun ketulusan berarti kesungguhan dan kebersihan (hati); kejujuran.

Berdasarkan Kamus Al-Munawwir Indonesia—Arab serta software Kamus Al-Mufid versi 1.0, terjemah kata “tulus” dalam bahasa Arab adalah ikhlรขs(ุฅุฎู„ุงุต).

” ikhlas berarti semua hal dilakukan semata-mata untuk dan karena Allah, apa pun sikap/perlakuan orang terhadap kita.

ู‚ُู„ْ ุฅِู†َّ ุตَู„ุงَุชِูŠْ ูˆَู†ُุณُูƒِูŠْ ูˆَู…َุญْูŠَุงูŠَ ูˆَู…َู…َุงุชِูŠْ ِู„ู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ
Katakanlah, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS al-An‘รขm [6] : 162)

Dari uraian di atas, bukankah wajar bahkan sebuah keharusan bila kita bertanya kepada diri sendiri, “Tuluskah saya ketika meminta dan memberi maaf? Jika memang tulus, apa buktinya?”

Mari kita lihat diri sendiri, tak perlu repot-repot menilai orang lain. Bukankah orang terdekat adalah diri sendiri? Bukankah semakin dekat seharusnya semakin mengerti betul kekurangan/kesalahan yang ada? Anehnya, justru karena sangat dekat itulah sehingga kita kesulitan bahkan tak dapat melihat kekurangan diri sendiri.
:)
 
Al-Fakir... CandraHernawanSarpin
 
#SALAMSB5PLUS
#SUNGAILANGKAIBERSIHBEBASBANJIRDANBERAKHLAKBAIKPLUSBERJIWAWIRAUSAHA

Penghimpunan Dana Zakat Ramadhan Meningkat


Candrahernawan.com - Jumlah dana zakat Ramadhan yang terkumpul di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengalami peningkatan dari tahun lalu. Direktur Amil Zakat Nasional Baznas, Arifin Purwakananta mengatakan kenaikan terjadi sekitar 48 persen dari tahun lalu. “Angka ini memang sedikit di atas rata-rata 25 persen atau sampai 30 persen setiap tahun,”  ujar Arifin saat dihubungi, Jumat (8/7).

Ia menjelaskan, pada Ramadhan tahun ini, Baznas menargetkan pengumpulan dana zakat Ramadhan sebesar Rp 2 triliun. Adapun dalam satu tahun ditargetkan dana terhimpun Rp 5 triliun. 

Karena data nasional belum terhimpun, dia mengatakan Baznas tidak mengetahui apakah target Ramadhan tahun ini tercapai atau tidak. Pada tahun lalu, Baznas tidak menargetkan berapa jumlah dana yang terhimpun pada saat proses pengumpulan zakat. Namun dalam satu tahun terkumpul dana Rp 4 triliun baik dari badan mil zakat pusat maupun badan amil zakat provinsi dan kabupaten/kota ditambah dengan seluruh badan amil zakat nasional.

Menurut Arifin, kenaikan jumlah dana zakat yang terhimpun pada Ramadhan ini terjadi karena beberapa hal. Salah satunya karena peningkatan pelayanan yang terus dilakukan. Menurut dia, tahun ini publik lebih mudah menemui Baznas di banyak kegiatan. Salah satunya di pusat perbelanjaan atau mal. 

Pada Ramadhan tahun ini, stan Baznas tersebar di 30 mal. Dengan demikian Baznas menjadi proaktif dengan turun ke lapangan dan menjemput bola ke perusahaan untuk bisa menerapkan program zakat di masyarakat. 

Faktor lainnya yaitu adanya layanan digital yang diberikan Baznas serta publikasi maksimal melalui media. Sehingga publik memberikan respons baik terhadap keberadaan Baznas. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penghargaan yang diterima Baznas melalui sosial media. “Jadi memang tahun ini kelihatannya masyarakat lebih merasakan kehadiran Baznas sehingga Baznas direspons baik dan angka penghimpunan naik secara tajam,” katanya.

Ia berharap pada tahun mendatang, penghimpunan dana pada saat Ramadhan bisa menjadi ajang bagi kemajuan Baznas. Baik Baznas tingkat nasional, provinsi, kabupaten kota serta seluruh lembaga amil zakat.

Penerimaan publik harus terus dijaga dengan peningkatan kualitas pelayanan dari seluruh komponen zakat Baznas maupun Laznas. Jika pelayanan terus diperbaiki maka masyarakat akan menjadi puas dan semakin banyak orang yang menyalurkan zakatnya di Baznas. 

Ia menambahkan, menjadi penting bagi Baznas untuk membuat program pemberdayaan yang lebih baik. Sehingga hasilnya tidak hanya penghimpunan dana yang terlihat. Tapi juga berbagai program pengentassn kemiskinan, bantuan dakwah yang diwajibkan dalam penyaluran zakat bisa dirasakan oleh umat secara nyata.

(sumber: Republika.co.id)

Kisah Mualaf Inggris dan Ramadhan Pertamanya


Mualaf (ilustrasi).Candrahernawan.com - David McDermot adalah seorang mualaf yang baru memeluk Islam tahun lalu. David memeluk Islam setelah bertemu dengan wanita Muslim yang kemudian ia nikahi.

"Teman-teman saya tidak bisa mengerti mengapa saya memeluk Islam, jadi bisa dibayangkan bagaimana mereka tidak mengerti mengapa saya berpuasa," kata David, seperti dilansir //Asian Image, Sabtu (25/6).

Itulah sepenggal pernyataan yang diungkapkan David, ketika ia tetap bergaul dengan teman-temannya walau tengah menjalani puasa Ramadhan pertamanya. Ia mengatakan, keputusannya memeluk Islam menuai banyak pertanyaan, yang kadang berulang dengan pertanyaan sama dan di hari yang sama. "Cukup menantang menjalani Ramadhan untuk pertama kalinya, tapi bermusuhan dengan semua skeptisme tidak membantu," ujar David.

David yang bermain untuk sebuah tim sepak bola, mengaku rutinitasnya justru membantu membuatnya tetap fit dan berenergi selama berpuasa. Padahal, rekan satu timnya meyakini David akan menjadi lemah lantaran tidak mengonsumsi makanan dan minuman, selama satu hari.

Saat ini, ia sedang berada dalam sebuah misi pribadi untuk membuktikan, puasa tidak akan menghalangi kemampuannya di lapangan. David merasa Ramadhan membuatnya termotivasi untuk memainkan permainan terbaik, serta berlatih keras untuk membuktikan kepada semua rekan satu timnya.

Bahkan, David mulai melakukan penelitian tentang pesepak bola Muslim yang terus bermain di ajang sepak bola besar, meski tengah berpuasa Ramadhan. Ia mencari tahu asupan yang akan menguntungkan tubuhnya dan tidak mengganggu rutinitas sepak bola yang dikerjakan. Salah satunya adalah untuk berhenti merokok.

"Saya ingin tetap fit dan terhindar dari dehidrasi, jadi saya membaca online (daring) tentang hal-hal terbaik untuk dimakan dan diminum selama Ramadhan," kata David.

Ia juga menuturkan bagaimana puasa Ramadhan membantu mengekang kebiasaan merokoknya, termasuk menciptakan kemauan besar untuk tidak merokok. Hebatnya, David mengatakan selama berpuasa ia tidak menginginkan rokok dan tidak ada dorongan sama sekali untuk merokok.

Berbeda dengan kebanyak orang, ia tidak merasa hari-hari pertama bulan suci Ramadhan merupakan puasa yang paling berat. Menurut David, pekan ketiga merupakan momen terberat untuk istiqamah menjalankan ibadah, termasuk hari-hari setelah bulan suci Ramadhan usai.

(Sumber Republika.coi.id)

Renungan berlalunya Ramadhan.......!!!

Candrahernawan.com - Ramadhan datang, namun telah pergi kembali

Gema takbir Idul Fitri membahana di penjuru negeri, namun hingar bingar takbir telah berakhir.
Itulah kehidupan,
Segala sesuatu ada pertemuan ada perpisahan, ada awal ada akhir, kehidupan pun akan selalu diiringi dengan kematian.
Saudaraku sekalian,
Ramadhan memang telah meninggalkan kita semua, namun hendaknya kita tetap perhatikan hal-hal setelah Ramadhan berlalu,
  1. Ramadhan itu ibarat tamu, setiap tamu pasti akan pergi meninggalkan kita semua. Begitu pula kita semua di kehidupan dunia, itu adalah tamu, yang akan meninggalkan dunia ini, maka persiapkanlah dengan ketaatan, kebaikan, keimanan dan ketakwaan.
  2. Ramadhan adalah bulan berlipatnya pahala bagi siapa saja yang melakukan ketaatan. Namun ketaatan itu tidak berlalu meskipun bulan Ramadhan berlalu. Karena kita dituntut untuk beribadah hingga ajal menjemput kita. Allah berfirman, artinya,
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. al-Hijr: 99)
  1. Setelah 29 hari bertamu ke tempat kita, akhirnya Ramadhan pun pergi. Akankah Ramadhan menjadi saksi yang meringankan kita karena kita melakukan ketaatan, shalat, dan puasa. Ataukah Ramadhan akan menjadi saksi yang memberatkan kita karena kita melalaikannya, bermaksiat, dan segala kejelekan yang kita lakukan?
  2. Berhati-hatilah dengan setan setelah Ramadhan, setelah Ramadhan berlalu, belenggu mereka sudah kembali dilepas, mereka kembali bebas untuk menggoda manusia.
Setan memiliki tujuan yaitu memasukan manusia ke Neraka. Mereka memiliki rencana jelas agar manusia mengikutinya ke Neraka, yaitu dengan menjadikan engkau terjatuh di dalam kubangan maksiat dan dosa. Ini semua juga bisa menghancurkan segala ketaatan yang manusia lakukan di bulan Ramadhan. Maka ikutilah firman Allah ta’ala, artinya,
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)
  1. Jagalah Shalat Lima Waktu
Jika di bulan Ramadhan kita mampu untuk shalat lima waktu secara berjamaah termasuk shalat Subuh, maka setelah Ramadhan, mari kita jaga shalat lima waktu kita dengan berjamaah di masjid untuk kaum pria. Karena shalat ada penerangmu di kehidupanmu, di kuburanmu, dan juga di shirath (jembatan). Shalat itu adalah keberkahan di dalam harta dan keluarga. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Maka jangan remehkan shalat.
  1. Jangan Jauhi Al-Qur’an setelah Ramadhan.
Jangan engkau menjadi orang yang hanya membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan saja, sedangkan di luar Ramadhan engkau jauhi al-Qur’an. Karena al-Qur’an diturunkan untuk dibaca baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Janganlah engkau menjadi seperti yang disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya, artinya,
“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.”(QS. al-Furqan: 30)
  1. Apakah ibadah Ramadhan kita diterima?
Di antara tanda diterimanya sebuah ketaatan adalah dengan melakukan ketaatan setelahnya, maka bersungguh-sungguhlah dalam kebaikan, ketaatan, keimanan, sedekah, puasa setelah Ramadhan, agar kita menjadi orang-orang yang diterima (ibadahnya).
Berusahalah agar terjadi perubahan menuju lebih baik setelah Ramadhan.
Jangan tertipu dengan ibadahmu dengan berkata, “Aku telah puasa sebulan penuh.” Akan tetapi pujilah Allah ta’ala yang telah memberikan taufiq bisa menjumpai bulan Ramadhan. Dan pujilah Allah ta’ala yang telah memberikan taufiq untuk bisa berpuasa dan shalat Tarawih. Berapa banyak orang yang terhalang dan tidak mampu melakukan ibadah di bulan Ramadhan.
  1. Jangan lupa puasa enam hari di bulan Syawwal
Termasuk amalan yang disyariatkan setelah bulan Ramadhan adalah puasa enam hari di bulan Syawwal. Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasalam-
“Barangsiapa yang puasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka itulah puasa setahun.” (HR. Muslim)
Hal itu terjadi karena bulan Ramadhan setara dengan sepuluh bulan, karena kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Sedang enam hari setara dengan enam puluh hari atau setara dua bulan. Itu semua menunjukkan seperti puasa satu tahun.

Demikianlah sedikit renungan setelah Ramadhan berlalu. Teruslah istiqamah dalam beribadah kepada Allah ta’ala meskipun Ramadhan telah berlalu. 
Wallahu a’lam

Doa Akhir Ramadhan

ุจِุณูۡ€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู…ِ ูฑู„ู„ู‡ِ ูฑู„ุฑَّุญูۡ€ู…َู€ٰู†ِ ูฑู„ุฑَّุญِู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ูŠู…ِ

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ


Perpisahan dengan bulan mulia yang hadir bersama seluruh keindahan dan keistimewaannya.
Berpisah dengan bulan ini bermakna kita meninggalkan kesempatan meraih pahala kebaikan yang berlipat ganda. Kita kehilangan dua keajaiban kegembiraan sewaktu berbuka puasa dan hilangnya kesempatan untuk memperoleh keampunan Allah terhadap dosa yang kita lakukan.

Sabda Rasulullah SAW: “Ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, kegembiraan saatberbuka dan kegembiraan tatkala bertemu dengan Allah.” (Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
Selesai saja Ramadhan bermakna lenyapnya kesempatan kita untuk menunaikan solat malam dengan jaminan pahala ampunan atas dosa dan kesilapan yang kita sudah tenggelam di dalamnya.

Sabda Rasulullah SAW: “Sesiapa saja yang solat Tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala solat sepanjang malam.” (Hadis riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)
Oleh itu jangan disia-siakan detik perpisahan ini, rasakan benar-benar kehadiran kita pada bulan ini dan lupakan kepenatan serta hilangkan rasa lelah dengan memperbanyakkan zikir, tilawah al-Quran, munajat dan permohonan ampun.

Tangisan Perpisahan


Hari-hari terakhir menjelang perpisahan dengan bulan penuh kemuliaan, kita ambillah semangat Lailatul Qadar dengan suatu perubahan sikap yang istiqamah terhadap Islam, mencintai Allah SWT sepenuhnya, tanpa dinodai dengan cinta dunia. Dengan itu kita boleh menjadi manusia yangikhlas, menerima Islam seteguhnya, tidak separuh-separuh dan tidak memilih.
Demi perpisahan ini, menangislah kerana kita akan berpisah dengan kemuliaan dan keberkatan hebat bulan ini. Rasulullah SAW bersabda: “Bahawa tidak akan masuk neraka orang menangis kerana takut kepada Allah sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya.”
Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa sempat bertemu Ramadhan dan tidak diampunkan dosanya, maka semakin jauh ia dengan Allah.” (Hadis riwayat Ibn Hibban).

Doa Akhir Ramadhan

Salah satu adab yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya adalah membacakan doa Perpisahan diakhir bulan Ramadhan.
Berikut adalah beberapa contoh doa perpisahaan yang boleh diamalkan.

Doa Pertama


Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW , bersabda;  “Sesiapa yang berdoa di akhir sujud Solat Subuh pada Jumaat terakhir di akhir Ramadhan, nescaya Allah SWT akan mengabulkan.”
 Sahabat bertanya, “ Doa apa itu Ya Rasulullah? ”
Berdoalah ; “Ya Allah! Pertemukan daku di Bulan Ramadhan tahun berikutnya, dalam keadaan Sihat wal’afiat, mudahkanlah rezeki bagiku dan segala urusanku, Ya Allah! “

Doa Kedua


Dari Jabir bin Abdillah r.a. dari Muhammad al Mustafa SAW: Beliau bersabda, “Siapa yang membaca doa ini di malam terakhir Ramadhan, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: menjumpai Ramadhan mendatang atau pengampunan dan rahmat Allah.”
“Ya Allah! Janganlah Dikau jadikan puasa kali ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Dikau menetetapkan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati bukan yang sia-sia.”


Doa Ketiga


Ya Allah! Janganlah Dikau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Dikau menetapkan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati, bukan puasa yang sia-sia.
Seandainya masih ada padaku dosa yang belum Dikau ampuni atau dosa yang menyebabkan daku diseksa kerananya, sehingga terbitnya fajar malam ini atau sehingga berlalunya bulan ini, maka ampunilah semuanya wahai Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi.
Ya Allah! Terimalah puasaku dengan sebaik-baik penerimaan, perkenan, kemaafan, kemurahan, pengampunan dan  keredhaan-Mu. Sehingga Dikau memenangkan daku dengan segala kebaikan yang dituntut, segala anugerah yang Dikau curahkan di bulan ini.
Selamatkanlah daku di dalamnya dari kebimbangan terhadap bencana yang mengancam atau dosa yang berterusan.  Demikian juga, dengan rahmat-Mu golongkanlah daku ke dalam orang-orang yang mendapatkan (keutamaan) malam al-Qadar. Malam yang telah Dikau tetapkan lebih baik dari seribu bulan.
Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadhan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya dan bukan juga pertemuan terakhirku. Moga daku dapat kembali bertemu pada Ramadhan mendatang dalam keadaan penuh harapan dan kesejahteraan.

Doa Keempat


Ya Allah! Dalam kitab yang Dikau wahyukan (kepada Nabi Muhammad SAW), Dikau berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkannya Al Qur’an di dalamnya”. Tetapi seketika lagi bulan Ramadhan akan berlalu. Daku mohonkan pada-Mu dengan perantaraan Wajah-Mu yang Mulia, dan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna; Sekiranya masih ada dosa padaku yang belum Dikau ampunkan, atau dosa yang (menyebabkan) Daku disieksa kerananya (hingga) terbitnya fajar malam ini, atau hingga berlalunya bulan ini; Maka ampunilah semuanya, wahai Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi.

Ya Allah! BagiMu segala pujian. Segala pujian yang telah Dikau ucapkan untuk diri-Mu sendiri, segala pujian sungguh-sungguh yang diungkapkan hamba-Mu yang bijak dan sentiasa berzikir dan bersyukur kepada-Mu. Merekalah orang-orang yang telah Dikau bantu menunaikan hak-hak-Mu dari sebahagian makhluk-Mu yang tersebar di alam ini, baik dari kalangan malaikat yang dekat dengan-Mu ataupun nabi-nabi yang telah Dikau utuskan ataupun orang-orang yang berfikir ataupun dari kalangan mereka yang bertasbih kepada-Mu.

Sesungguhnya, Dikau telah membawa kami ke bulan Ramadhan dan telah mengurniakan kami kenikmatan dan anugerah. Dikau telah menampakkan kemurahan dan pemberian-Mu. Pada-Mu lah bermurah segala sanjungan yang abadi, kekal, dan tetap selamanya. Betapa Agung Sebutan-Mu!

Tuhanku! Bantulah daku menjalani bulan Ramadhan sehingga Dikau sempurnakan puasa, solat dan segala kebaikan, syukur dan zikir kami di bulan ini. Wahai Tuhanku! Terimalah puasaku dengan sebaik-baik penerimaan, perkenanan, maaf, kemurahan, pengampunan, dan hakikat keredhaan-Mu. Sehingga Dikau memenangkan daku dengan segala kebaikan yang dituntut, segala anugerah yang Dikau curahkan di bulan ini. Selamatkanlah daku di dalamnya dari kekhuatiran terhadap bencana yang mengancam atau dosa yang berterusan.

Duhai Tuhanku! Daku bermohon pada-Mu dengan keagungan yang diminta hamba-Mu dari kemuliaan nama-nama dan keindahan pujian-Mu dan dari para pengharap yang istimewa. Sudilah Dikau mencurahkan rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarganya. Dan agar Dikau jadikan bulan ini seagung-agungnya Ramadhan, yang telah berlalu dari kami sejak Dikau turunkan ke dunia, sebagai berkah dalam menjaga agama, jiwa dan segala keperluanku. Juga berkatilah daku dalam semua persoalan, sempurnakanlah pemberian nikmat-Mu, jauhkanlah daku dari keburukan dan hiasi daku dengan pakaian kesucian di bulan ini.

Demikian juga, dengan rahmat-Mu golongkanlah daku ke dalam orang-orang yang mendapatkan (keutamaan) malam al-Qadar. Malam yang telah Dikau tetapkan lebih baik dari seribu bulan, dalam keagungan ganjaran, kemuliaan perbendaharaan, keindahan syukur, panjang umur dan kemudahan yang berterusan.

Wahai Tuhanku! Daku bermohon dengan perantaraan rahmat, kebaikan, ampunan, kurniaan, keluhuran, kebaikan dan pemberian-Mu. Janganlah Dikau jadikan Ramadhan ini sebagai kesempatan terakhirku. Sudilah Dikau menghantar daku hingga Ramadhan berikutnya dalam keadaan yang paling baik. Perlihatkan daku hilal (anak bulan) Ramadhan berikutnya, bersama orang-orang yang melihat keluasaan rahmat-Mu. Dan limpahkanlah anugerah-Mu, wahai Tuhanku. Tiada ada Tuhan selain Allah!

Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadhan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya dan bukan juga pertemuan terakhirku. Sehingga daku dapat kembali bertemu pada tahun mendatang dalam keadaan penuh harapan dan kesejahteraan. Kini daku berada di hadapan-Mu dengan penuh kesetiaan. Sesungguhnya Dikau Maha Mendengar segala doa. Ya Allah! Dengarkanlah pengaduanku ini. Perhatikanlah rintihan, kerendahan, kepapaan dan penyerahan diriku ini.

Daku berserah diri pada-Mu, Tuhanku! Daku tidak mengharapkan kemenangan, ampunan, kemuliaan dan penyampaian (kepada cita-citaku) kecuali pada-Mu. Anugerahkanlah daku keagungan pujian-Mu, kesucian nama-nama-Mu dan sampaikan daku kepada Ramadhan berikutnya dalam keadaan terlepas dari semua keburukan, kebimbangan dan ketidaktentuan. Segala pujian untuk-Mu sahaja, yang telah membantu kami menunaikan puasa dan mendirikan qiamullail di bulan Ramadhan ini, sehingga malamnya yang terakhir.

Taqabbalallahu minna waminkum, wakullu ‘aamin wa antum bikhairin.
Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini dengan kebaikan…
Amin …!
.
ูˆَุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ ุนَู„َูŠْูƒَู…ْ ูˆَุฑَุญْู…َุฉُ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุจَุฑَูƒَุงุชُู‡

Prajurit Wanita TNI tak Masalah Pakai Hijab Selama tak Ganggu Kinerja

Antara/Ampelsa
Prajurit Kowad TNI AD
Prajurit Kowad TNI AD

Candrahernawan.com - Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati menilai tidak masalah jika prajurit wanita TNI mengenakan hijab dalam bertugas. Sebab selain hal itu adalah pilihan pribadi, pemakaian hijab juga tak menganggu kinerja seorang prajurit wanita.

"Yang penting kan kinerjanya si pemakai hijab bagus, tidak terganggu dengan pemakaian hijabnya," ujarnya kepada Republika.co.id.

Susaningtyas melanjutkan, yang jelas seyogyanya pembolehan penggunaan hijab bagi prajurit wanita TNI disertai peraturan seperti yang dibuat Polri. ‎"Agar reward and punishmentnya jelas," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mempersilahkan anggota wanita TNI AD (Kowad) untuk mengenakan jilbab. Gatot tak melarang jika jilbab itu digunakan oleh Kowad sebagai seragam tugasnya pascabulan ramadhan. Namun, Gatot tidak menyebut secara rinci mengenai aturannya. 

Jilbab di kalangan anggota wanita TNI merupakan yang pertama.  Pada tahun lalu, saat Panglima TNI dijabat oleh Jenderal Moeldoko, TNI menyatakan telah   mengakomodasi usul pemakaian jilbab bagi wanita TNI dalam melaksanakan tugas sebagai prajurit. Tapi aturan penggunaan jilbab itu hanya diperuntukkan bagi wanita TNI yang bertugas di Aceh. 

Sebelum TNI, Polri telah lebih dulu memperbolehkan anggotanya mengenakan hijab. Pada Mei 2015 lalu, Mabes Polri secara resmi mengakomodasi keinginan anggotanya maupun PNS yang bekerja di lingkungan Polri untuk berhijab. 

Kini para Polwan sudah boleh mengenakan jilbab tanpa ada halangan lagi.Dalam pengumuman yang terdapat dalam lamanhumas.polri.go.id,/i> aturan tersebut tertuang dalam Keputusan Kapolri Nomor : 245/III/2015 tanggal 25 Maret 2015, tentang perubahan atas sebagian surat keputusan Kapolri Nopol : SKEP/702/X/2005 tanggal 30 September 2006 tentang sebutan penggunaan pakaian dinas seragam Polri dan PNS Polri. (Sumber: antara)
 

CARA MUDAH KANGKUNG HIDROPONIK

ALAT ALAT DASAR HIDROPONIK

CARA MENANAM TOGE MANTAP

HIDROPONIK TEGAK

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Candra Hernawan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger